Kelucuan suatu negeri.Ada apa dengan negeri tercinta ini, tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Jika diwaktu kecil masih bisa melihat kicauan burung dan semangat para penduduk mengolah sawahnya, sekarang semua berganti dengan hiruk pikuk keramaian kota. Pasar dengan segala aktifitasnya terlihat aneh ketika seorang sarjana menejemen yang mencari pekerjaan dan mempertemukannya dengan seorang pencopet kecil.Dari sinilah kelucuan ini tercipta.....
Lucunya sebuah nasib.Kenyataan bahwa seorang sarjana kesulitan mencari kerja sudah menjadi rahasia umum. Mungkin inilah yang saat ini sedang dialami muluk, seorang sarjana menejemen. Kegalauan pun muncul ketika orang tua mulai bertanya tentang pekerjaan namun belum ada pekerjaan yang digenggam. Allah tidak pernah tidur. Begitulah ungkapan yang tepat untuk mensyukuri nikmat seseorang.Pertemuannya dengan anak kecil di pasar mengantarkan nasibnya ke dalam suatu pekerjaan yang mungkain tidak pernah dibayangkan. Memenejemeni pencopet, inilah pekerjaannya.Tidak tahu ini berkah atau musibah, tetapi dia tetap berprasangka baik.
Sarjana menejemen mengatur copet. Keprihatinannya melihat kondisi anak -anak yang menjadi pencopet memunculkan suatu gagasan bahwa mencopet juga butuh pengaturan dan rencana. Seorang pencopet akan selamanya menjadi copet jika asal-asalan mencopet. Tentu hal ini bukan cita-cita anak kecil tersebut, tetapi kebiasaan lingkungan sehari-harinya seperti itu membuat mereka berfikir bahwa itulah hidup mereka. Pandangan ini tentu harus segera dimusnahkan mengingat mereka adalah tunas muda harapan bangsa yang akan memimpin negeri ini. Sebagai seseorang yang telah bertahun-tahun mempelajari teori menejemen inilah saatnya Muluk mempraktekkannya. Pembuktian dan penerapan inilah yang sebenarnya dibutuhkan setelah melewati masa perkuliaan karena keberhasilan dan kebermanfaatan ilmu tergantung bagaimana ilmu tersebut digunakan dalam masyarakat. Pekerjaan ini mungkain bukan yang diharapkan tetapi inilah bentuk kebermanfaatan ilmu Muluk.
Apa arti mengatur untuk pencopet??? menejemen dibutuhkan hampir di segala aktifitas , hal ini memang benar. Tidak hanya untuk mensukseskan aktifitas tetapi juga demi mempermudah melakukannya..Pencopet...bagaimana pengaturannya???karena anggota dalam kelompok ini lumayan banyak maka harus ada pembagian tempat sasaran pencopetan sesuai keahliannya masing-masing. Selain itu, pengelolaan hasil mencopet merupakan bagian penting dalam proses ini. Bayangkan saja setiap hari mencopet mempertaruhkan diri untuk mendapatkan hasil tetapi seiring bergantinya hari uang itupun habis dan seperti itu seterusnya. Jika terus - menerus seperti ini seorang pencopet akan selamanya hidup menjadi pencopet. Muluk datang membawa perubahan di kehidupan mereka, mengatur hasil mencopet yang tidak hanya untuk makan sehari-hari tetapi juga menyimpannya untuk modal seorang pencopet berusaha di kemudian hari. Tidak mudah memang merubah persepsi seorang pencopet untuk berubah dan berkembang, niat Muluk mengumpulkan sebagian hasil mencopet sebagai modal usaha mengasong mendapat hambatan. Keteguhan hati dan kesadaran dari diri mereka merubah pencopet menjadi pedagang asongan, pekerjaan yang sedikit lebih baik dan menjadi awal usaha.
Mulia mana antara pencopet dan koruptor???mencopet bukan pekerjaan halal,iya itu benar.Jika bisa memilih tentu tidak ada yang ingin menjadi pencopet tetapi inilah setidaknya pilihan hidup yang dijalani beberapa anak kecil ini. Bagaimana dengan seorang koruptor, apa melakukan korupsi juga pilihan hidup???. Seseorang yang menjadi pencopet sebagian besar adalah orang tidak tidak berpendidikan atau pun apabila sekolah juga sekolah di tingkat dasar. Mereka mengais rezeki dengan mengorbankan nyawa, tidur di tempat yang sebenarnya tidak layak di tempati. Sedangkan koruptor, seseorang dengan pendidikan tinggi, kedudukan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya, dan kehidupan yang bisa dikatakan mapan dan berkecukupan. Namun mengapa mereka masih mengambil hak milik orang lain, betapa kufurnya para koruptor. Mensyukuri nikmat yang telah diperoleh saja tidak mau tetapi mengharapkan lagi hal yang lebih banyak.
Pencopet dan koruptor, keduanya memang bukan pekerjaan yang sepantasnya dilakukan. Keduanya mengambil hak milik orang lain dan tentu juga merugikan, begitulah persamaannya. Sesuatu pasti memiliki dua sisi, begitu pula pencopet dan koruptor, selain memiliki persamaan juga memiliki perbedaan. Perbedaan inilah yang membuat pencopet dan koruptor menjadi dua hal yang berbeda dan tidak bisa disamakan. Tetapi jika pencopet saja yang tertangkap bisa dihakimi massa dan mendapatkan hukuman yang sama, mengapa koruptor bisa duduk bersantai menikmati hasil korupsinya???. Selucu inikah negeri ini???pencopet tentu lebih mulia dibandingkan koruptor yang diharapkan menjadi wakil rakyat justru menipu rakyat dengan pendidikan dan kedudukan yang dimiliki.