Minggu, 20 November 2011

Jika Saya Menjadi Presiden ( Merubah Diri Sendiri Sebelum Merubah Orang Lain)


Aku bingung.Ya inilah yang mungkin saya rasakan. Bukan karena tidak siap memimpin tetapi apakah orang – orang di sekitar siap untuk dipimpin???Saya tidak akan mengobral janji akan melakukan apa dan akan membawa perubahan apa untuk negeri ini, tetapi saya akan merubah diri sendiri terlebih dulu. Apa arti sebuah perubahan besar yang dilakukan jika perubahan kecil saja tidak dilakukan,,,bisakah perubahan itu terwujud?bukankah perubahan itu dimulai dari yang kecil terlebih dahulu.
Menjadi presiden bukan suatu pekerjaan yang mudah, tetapi juga jangan dijadikan menjadi sulit. Bukan kesulitan yang membuat takut tetapi ketakutanlah yang membuat sulit. Jangan mencoba untuk menyerah dan janganlah menyerah untuk mencoba. Di sini tidak bearti saya tidak mau berkontribusi untuk negeri ini, tetapi bagi saya lebih baik memperbaiki bagaimana saya bersikap, bagaimana saya menghadapi dan menyelesaikan masalah, dan bagaimana saya mengontrol diri.
Ketika seseorang ingin merubah sesuatu, ada tiga hal yang menjadi pertimbangan mengenai setelah melakukan perubahan, apa akan lebih baik dan tentu itu yang diharapkan, apa akan tetap seperti sebelumnya yang berarti perubahan yang dilakukan itu sia – sia, ataukah akan menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Tata kembali niat dalam hati, menjadi presiden adalah tugas mulia. Niatkanlah segala sesuatu hanya untuk beribadah kepada ALLAH. Jika niatnya saja sudah salah maka apa yang akan dilakukan selanjutnya tentu tidak maksimal. Bukankah kita semua juga tahu bahwa segala sesuatu itu tergantung pada niatnya.
Intinya jika  menjadi presiden, saya belum akan menggembar-gemborkan janji atau program untuk dilakukan tetapi merubah diri saya sendiri dan merubah mindset masyarakat. Oleh karena itu,  mari kawan kita buka mata, buka telinga, buka hati. Berubahkah!!!jika memang belum bisa berubah untuk lebih baik jangan menambah masalah dengan melakukan hal yang memunculkan masalah. Sekecil apapun perubahan yang dilakukan akan berarti karena perubahan besar adalah gabungan perubahan kecil.

Kamis, 17 November 2011

Membaca untuk Menulis dan Menentukan Masa Depan

Idealisme penulis.Seseorang membutuhkan identitas, apalagi seorang penulis. Bukan hanya agar orang lain mengenalnya tetapi agar orang mengerti dan memahami tulisannya.Idealisme yang dimaksud di sini adalah apa yang membuat seorag penulis memiliki karakter dan ciri khas yang membedakannya dengan penulis yang lain.Keidealisan penulis harus sesuai porsi jangan sampai karena ingin memperlihatkan ciri khas dan membuat karya yang terbaik, seorang penulis melupakan tanggungjawabnya terhadap pembaca.Penulis tidak boleh egois sehangga menimbulkan kesulitan bagi pembaca untuk memahami tulisannya, karena syarat dalam menulis populer tidak boleh menyiksa pembaca.Penulis juga tidak hanya membuat pembaca paham namun juga harus mngerti.
Kesederhanaan. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, inilah pedoman yang harus selslu diingat penulis dan juga semua orang.Begitu halnya dengan menulis, kesederhanaan merupakan salah satu daya tarik bagi pembaca.Penggunaan paragraf sederhana dengan isi lima belas kata tiap kalimat dan menggunakan kata baku.Memperhatikan pola kalimat SPOK dan struktur tulisan yang berisi masalah-solusi atau pun sebab-akibat.Istilah asing jangan sering digunakan karena tidak semua pembaca bisa memahaminya.
Tips singkat menulis opini. Kerangka tulisan adalah pondasi yang harus dibuat untuk membuat tulisan.Kejelasan tentang objek tulisan yang dituju merupakan langkah selanjutnya sebelum menentukan judul yang agitatif.Kembangkan kerangka dengan membuat tulisan dari sudut pandang yang berbeda.
Menulis populer merubah pola pikir kita , membentuk karakter, menentukan pilihan, dan menciptakan masa depan.Ayo menulis kawan.......

Minggu, 13 November 2011

Bila Negerinya Saja Lucu,,,Bagaimana dengan yang Lainnya???

Kelucuan suatu negeri.Ada apa dengan negeri tercinta ini, tempat kita dilahirkan dan dibesarkan. Jika diwaktu kecil masih bisa melihat kicauan burung dan semangat para penduduk mengolah sawahnya, sekarang semua berganti dengan hiruk pikuk keramaian kota. Pasar dengan segala aktifitasnya terlihat aneh ketika seorang sarjana menejemen yang mencari pekerjaan dan mempertemukannya dengan seorang pencopet kecil.Dari sinilah kelucuan ini tercipta.....
          Lucunya sebuah nasib.Kenyataan bahwa seorang sarjana kesulitan mencari kerja sudah menjadi rahasia umum. Mungkin inilah yang saat ini sedang dialami muluk, seorang sarjana menejemen. Kegalauan pun muncul ketika orang tua mulai bertanya tentang pekerjaan namun belum ada pekerjaan yang digenggam. Allah tidak pernah tidur. Begitulah ungkapan yang tepat untuk mensyukuri nikmat seseorang.Pertemuannya dengan anak kecil di pasar mengantarkan nasibnya ke dalam suatu pekerjaan yang mungkain tidak pernah dibayangkan. Memenejemeni pencopet, inilah pekerjaannya.Tidak tahu ini berkah atau musibah, tetapi dia tetap berprasangka baik.
          Sarjana menejemen mengatur copet. Keprihatinannya melihat kondisi anak -anak yang menjadi pencopet memunculkan suatu gagasan bahwa mencopet juga butuh pengaturan dan rencana. Seorang pencopet akan selamanya menjadi copet jika asal-asalan mencopet. Tentu hal ini bukan cita-cita anak kecil tersebut, tetapi kebiasaan lingkungan sehari-harinya seperti itu membuat mereka berfikir bahwa itulah hidup mereka. Pandangan ini tentu harus segera dimusnahkan mengingat mereka adalah tunas muda harapan bangsa yang akan memimpin negeri ini. Sebagai seseorang yang telah bertahun-tahun mempelajari teori menejemen inilah saatnya Muluk mempraktekkannya. Pembuktian dan penerapan inilah yang sebenarnya dibutuhkan setelah melewati masa perkuliaan karena keberhasilan dan kebermanfaatan ilmu tergantung bagaimana ilmu tersebut digunakan dalam masyarakat. Pekerjaan ini mungkain bukan yang diharapkan tetapi inilah bentuk kebermanfaatan ilmu  Muluk.
          Apa arti mengatur untuk pencopet??? menejemen dibutuhkan hampir di segala aktifitas , hal ini memang benar. Tidak hanya untuk mensukseskan aktifitas tetapi juga demi mempermudah melakukannya..Pencopet...bagaimana pengaturannya???karena anggota dalam kelompok ini lumayan banyak maka harus ada pembagian tempat sasaran pencopetan sesuai keahliannya masing-masing. Selain itu, pengelolaan hasil mencopet merupakan bagian penting dalam proses ini. Bayangkan saja setiap hari mencopet mempertaruhkan diri untuk mendapatkan hasil tetapi seiring bergantinya hari uang itupun habis dan seperti itu seterusnya. Jika terus - menerus seperti ini seorang pencopet akan selamanya hidup menjadi pencopet. Muluk datang membawa perubahan di kehidupan mereka, mengatur hasil mencopet yang tidak hanya untuk makan sehari-hari tetapi juga menyimpannya untuk modal seorang pencopet berusaha di kemudian hari. Tidak mudah memang merubah persepsi seorang pencopet untuk berubah dan berkembang, niat Muluk mengumpulkan sebagian hasil mencopet sebagai modal usaha mengasong mendapat hambatan. Keteguhan hati dan kesadaran dari diri mereka merubah pencopet menjadi pedagang asongan, pekerjaan yang sedikit lebih baik dan menjadi awal usaha.
          Mulia mana antara pencopet dan koruptor???mencopet bukan pekerjaan halal,iya itu benar.Jika bisa memilih tentu tidak ada yang ingin menjadi pencopet tetapi inilah setidaknya pilihan hidup yang dijalani beberapa anak kecil ini. Bagaimana dengan seorang koruptor, apa melakukan korupsi juga pilihan hidup???. Seseorang yang menjadi pencopet sebagian besar adalah orang tidak tidak berpendidikan atau pun apabila  sekolah juga sekolah di tingkat dasar. Mereka mengais rezeki dengan mengorbankan nyawa, tidur di tempat yang sebenarnya tidak layak di tempati. Sedangkan koruptor, seseorang dengan pendidikan tinggi, kedudukan yang tidak semua orang bisa mendapatkannya, dan kehidupan yang bisa dikatakan mapan dan berkecukupan. Namun mengapa mereka masih mengambil hak milik orang lain, betapa kufurnya para koruptor. Mensyukuri nikmat yang telah diperoleh saja tidak mau tetapi mengharapkan lagi hal yang lebih banyak.
          Pencopet dan koruptor, keduanya memang bukan pekerjaan yang sepantasnya dilakukan. Keduanya mengambil hak milik orang lain dan tentu juga merugikan, begitulah persamaannya. Sesuatu pasti memiliki dua sisi, begitu pula pencopet dan koruptor, selain memiliki persamaan juga memiliki perbedaan. Perbedaan inilah yang membuat pencopet dan koruptor menjadi dua hal yang berbeda dan tidak bisa disamakan. Tetapi jika pencopet saja yang tertangkap bisa dihakimi massa dan mendapatkan hukuman yang sama, mengapa koruptor bisa duduk bersantai menikmati hasil korupsinya???. Selucu inikah negeri ini???pencopet tentu lebih mulia dibandingkan koruptor yang diharapkan menjadi wakil rakyat justru menipu rakyat dengan pendidikan dan kedudukan yang dimiliki.

Sabtu, 05 November 2011

OMB.....(Kebiasaan senior)

     Sebagai mahasiswa baru atau lebih dikenal dengan sebutan "maba" pasti tidak asing dengan istilah OMB. Di sini saya tidak akan membahas apa itu OMB atau kegiatannya, karena  temen-temen pasti sudah tahu. Sadar atau tidak ada satu fenomena yang sepengetahuan saya dan temen yang lain lihat tapi dianggap biasa, apa itu??? senior yang pasang wajah sangar saat melakukan evaluasi terhadap maba.
     Kebiasaan ini mungkin sudah berjalan bertahun-tahun atau memang sudah menjadi tradisi. Mengapa harus seperti itu, apa dengan wajah sangar akan membuat maba menyampaikan gagasannya dengan leluasa? sepertinya tidak. Niat para senior untuk melatih keseriusan itu bagus, tetapi di sisi lain ada perasaan takut dihati maba. Hal ini seharusnya juga menjadi pertimbangan para senior untuk mengonsep acara evaluasi dalam OMB.