RENCANA INDAH ALLAH
Menjadi yang terbaik memang merupakan suatu hal yang lumrah diimpikan oleh setiap individu. Entah dalam bentuk akademik maupun non akademik. Persaingan menjadi hal yang dihalalkan untuk mencapai semua ini. Tak bisa ditawar, keluarga lah factor pendukung utama dalam meraihnya.
Berawal dari pengalaman, saya ingin membagi unek – unek tentang semua ini. Dibesarkan dalam keluarga yang biasa, tak membuat saya lantas terenyuh dan mencoba pasrah dengan semua keadaan. Bahkan jika saya dapat berbicara saya bersyukur memiliki kelurga yang biasa namun memiliki kasih sayang yang sangat luar biasa.
Meski dengan kondisi keluarga saya yang tak berlebih , namun yang membuat terharu adalah pengorbanan orangtua yang selalu berusaha memberikan yang berlebih untuk saya. Apalagi ayah saya, beliau adalah sosok lelaki yang paling ku kagumi. Beliau selalu menanamkan tentang arti perjuangan dalam hidup. Saya masih ingat dengan jelas saat ayah saya harus berpeluh keringat hanya untuk memberikan kecukupan pada kehidupan keluarga kami. Namun beliau selalu berkata, peluh keringatnya terlupakan saat melihat keceriaan kami. Maka tak heran jika suatu saat telah berhasil dalam meraih hidup, sosok pertama yang saya berikan semua adalah orang tua saya.
Hal yang paling saya ingat, beliau selalu menanamkan semangat dalam belajar. Meski sebagian keluarga saya hanya lulusan sekolah dasar bahkan sebagian yang lain malah belum tamat SD, tetapi ayah saya selalu memberikan dorongan agar saya terus dan terus berpijak pada kosentrasi dalam dunia pendidikan. Dari kecil memang saya tak pernah diberikan pengarahan khusus dalam belajar, tapi alhamdulillah saya selalu dapat menjadi yang terbaik dikelas. Itu semua ku persembahkan untuk orang tua saya. Meski saat usia sebelia itu saya tak pernah membayangkan prestasi tersebut dapat memberikan kebanggaan atau tidak untuk orang tua saya. Yang saya pikirkan saat itu adalah dapat memberikan sedikit senyum untukmereka. Dan sangat senang rasanya jika orang tua saya tersenyum ketika nama saya dipanggil saat pengambilan raport. Mungkin itulah kebahagiaan tersendiri buat saya waktu itu.
Hingga saat sekolah menengah atas, saya mengikuti permintaan ayah untuk sekolah ditempat yang berasrama. Yang sering disebut dengaa mondok. Pertama memang terasa berat sekali harus berpisah dengan sanak saudara dan jauh dari teman dirumah. Parahnya lagi saya harus belajar untuk mulai beradaptasi dengan lingkungan baru yang sarat dengan kemandirian. Jauh sekali dari kehidupan saya selama ini yang selalu dimanja, karena memang saya terlahir sebagai anak sulung dan jarak dengan adik cukup jauh.
Kehidupan baru saya dimulai disini, jauh dari keluarga menjelmakan saya menjadi sosok yang lebih mandiri. Meski saya tak dapat memungkiri, kadang perasaan rindu sering menyelusup dan membaut saya terlelap dalam linangan air mata. Namun saya sadari, semua itu takkan menjadikan saya lebih baik jika saya selalu terpuruk. Akhirnya dengan segala kekuatan yang saya miliki saya berusaha bertahan ditempat itu, meski kadang menyakitkan.
Dulu ... aku selalu bermimpi untuk menginjakkan kaki bahkan duduk di sekolah negri. Yah.. mimpi kecil yang mungkin ditertawakan, tapi bagiku merupakan sebuah kebanggaan bisa duduk di bangku sekolah negri. Namun persepsiku salah, semua berubah tatkala nasibku ternyata tak sejalan dengan anganku. Ya.. saat SMA aku harus tinggal di sebuah asrama, bersekolah di madrasah aliyah bukan SMA favorit yang ku impikan. Keterbatasan nilai serta ayahku yang berkeinginan lain membuatku harus mondok untuk menuntut ilmu. Awalnya aku hanya setengah hati mnjalankan, karena hatiku masih memimpikan SMA favorit di daerahku. Aku seringkali harus merasa iri mendengar kawan-kawanku bercerita tentang skolah negrinya, bercerita tentang hidup bebasnya. Sedangkan aku.... ??? aku tinngal di sebuah pondok yang memaksaku untuk selalu memenuhi peraturan, jauh dari kata “bebas” yang selalu kawan-kawanku ceritakan. Saat kawan-kawanku sibuk dengan dunianya, aku sibuk dengan hafalan-hafalanku, dengan pelajaranku, dengan kewajibanku.. hingga terkadang aku berfikir aku telah kehilangan masa mudaku. Tapi ternyata tidak! Semua salah. Allah memang selalu punya rencana terindah untuk hambanya,. Hari-hariku selanjutnya mulai terjalani dengan penuh keikhlasan. Aku menjalani ritme hidupku meski tanpa kata “kebebasan” yang selau kawan-kawanku gemborkan. Tapi aku mulai senang, aku sibuk dengan dunia baruku.
Hingga aku mampu mengukir prestasi di sekolahku. entah, meski awalnya begitu berat untuk menjadi 10 besar, tapi alhamdulilah secara luar dugaan aku mampu selalu menjadi 3 besar sampai akhirnya aku mampu menjadi yang terbaik saat wisuda kelulusan. Air mataku menetes, apalagi pengumuman itu bersamaan dengan pengumuman aku diterima di PTN dengan beasiswa. Rasanya aku ingin bersujud tiada henti atas rencana indah yang telah Allah siapkan untukku. Aku merasa malu, selama ini aku selalu mengeluh atas nasibku, atas keinginanku yang tertunda untuk diwujudkan. Aku percaya.. Allah memberikan apa yang kita butuhkan pada waktunya. Terimakasih allah.. terimaksih bapak.. ibu.. terimaksih teman-teman..
Dan.. kekuasaan allah memang sungguh tiada tara. Setelah aku lulus SMA dan melanjutkan ke PTN favorit. Aku mengenal teman-teman yang begitu mengegumkan. Teman yang selalu memberiku arti sebuah ketulusan dalam persaudaraan, ketulusan dalam menjalani tiap apa yang dikerjakan. Yah.. teman 38 yang begitu menakjubkan, teman yang selalu menguatkanku dalam setiap keadaan. Satu hal terindah dalam hidupku adakah memiliki kalian dan membuat goresan senyum dalam hadir kalian. Terima kasih telah menjadi keluarga kecilku. Akan kutulis beribu kisah indah kita dalam untaian doa dan lantunan syair indah cinta ukhuwah.. its all just for my beloved friend (PBSB’11)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar